Beranda » Fiksi » Jejak Cinta, Janji di Fuji
click image to preview activate zoom

Jejak Cinta, Janji di Fuji

Rp 118.000
Stok Pre Order
KategoriFiksi
Tentukan pilihan yang tersedia!
PRE ORDER
Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut mengenai pemesanan produk ini.
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Jejak Cinta, Janji di Fuji

Judul       : Jejak Cinta, Janji di Fuji

Penulis   : I Nyoman Tika

Ukuran   : 14 x 20 cm

Tebal       : 246 Hal

Cover      : Soft Cover

SINOPSIS

Ketika cinta berjalan melintasi jarak, yang diuji bukan hanya kesetiaan, tetapi juga keberanian untuk tetap percaya.

Jejak Cinta, Janji di Fuji adalah kumpulan kisah cinta yang membawa pembaca menyusuri perjalanan panjang dari Bali, Lampung, Jakarta, Palembang, Lombok, Papua, hingga berbagai negeri di dunia. Cinta dalam buku ini tidak selalu hadir dalam pertemuan yang sederhana. Ia tumbuh di antara jarak, perjalanan, kesalahpahaman, kehilangan kabar, perbedaan kota, bahkan perbedaan benua.

Kisah diawali dengan “Cinta di Bawah Bayang-Bayang Fuji”, ketika sebuah pertemuan di Tokyo menjadi pintu bagi perjalanan perasaan yang telah dimulai jauh sebelumnya. Dari sana, cinta bergerak melalui berbagai ujian. Pertengkaran memperlihatkan bahwa orang yang saling mencintai pun dapat terluka oleh ego dan kesalahpahaman. Sementara “Sayap Cahaya Cinta” dan “Seminggu Tanpa Kabar” menggambarkan bagaimana kerinduan dapat tumbuh justru ketika seseorang berada jauh dan tidak memberikan kepastian.

Perjalanan kemudian semakin luas. “Janji di Antara Dua Kota” membawa cinta dari Bali menuju Lampung. “Cinta yang Menyeberangi Dua Pulau” dan “Cinta yang Menyeberangi Benua” memperlihatkan bahwa jarak geografis bukan selalu penghalang bagi dua hati yang ingin saling menemukan. Australia menjadi latar bagi cinta yang tumbuh di negeri asing, sedangkan ekspedisi ke Papua mempertemukan cinta dengan hutan, sungai, pegunungan, dan kekayaan alam Indonesia.

Keunikan buku ini terletak pada pertemuan antara romantisme dan ilmu pengetahuan. Cinta tidak hanya digambarkan melalui bunga, hujan, malam, atau senja, tetapi juga melalui metafora ilmiah. Dalam “Algoritma yang Menemukan Cinta”, kecerdasan buatan dan penemuan obat menjadi gambaran tentang manusia yang mencoba menemukan kemungkinan di tengah jutaan pilihan. “Kode Cinta di Bawah Langit London” membawa pembaca pada dunia genetika dan teknologi CRISPR, sekaligus mempertanyakan apakah kehidupan dapat benar-benar dikendalikan seperti sebuah kode.

Di Denmark, angin menjadi simbol perjalanan dan harapan dalam “Angin yang Membawa Pulang Cinta”. Di Swiss, cokelat menjadi metafora tentang proses, kesabaran, dan rasa pulang. “Karbon yang Menyimpan Cinta” mempertemukan kisah cinta dengan persoalan laut dan perubahan iklim. Sementara itu, “Wine yang Menyimpan Rindu” membawa pembaca ke Bordeaux, Prancis, tempat ilmu fermentasi, buah tropis, aroma, dan kerinduan berpadu menjadi satu perjalanan emosional.

Kisah lainnya membawa pembaca ke dunia rumput laut, genetika tanaman, dan nanoteknologi. “Rumput Laut yang Menyimpan Pulang” berbicara tentang ilmu, tanah kelahiran, dan keinginan memberikan nilai tambah bagi masyarakat. “Gen yang Menemukan Cinta” menghubungkan pertanian masa depan dengan impian untuk membangun Indonesia. Sedangkan “Nano yang Menyimpan Cinta” mengingatkan bahwa sesuatu yang sangat kecil dapat memiliki pengaruh yang sangat besar—sebagaimana sebuah perasaan kecil dapat tumbuh menjadi cinta yang mengubah kehidupan.

Dengan latar perjalanan dari Indonesia hingga Jepang, Australia, Papua, Inggris, Denmark, Swiss, Prancis, Jerman, Belanda, Kanada, dan Amerika Serikat, buku ini bukan sekadar kumpulan kisah romantis. Ia adalah perjalanan tentang manusia yang pergi untuk belajar, mencintai untuk memahami, dan menjauh untuk menemukan arti pulang.

Di balik setiap perjalanan tersimpan pertanyaan yang sama: apakah cinta mampu bertahan ketika jarak, waktu, ilmu pengetahuan, pekerjaan, dan kehidupan terus mengubah manusia?

Jejak Cinta, Janji di Fuji akhirnya mengajak pembaca memahami bahwa cinta bukan sekadar tentang memiliki atau selalu berada di sisi seseorang. Cinta adalah keberanian untuk percaya, kesediaan untuk menunggu, kemampuan untuk memaafkan, dan kemauan untuk tetap menjaga kenangan ketika perjalanan membawa dua manusia ke arah yang berbeda.

Dan di ujung perjalanan, Gunung Fuji menjadi simbol keteguhan sebuah janji.

Sebab sejauh apa pun seseorang pergi, cinta yang benar-benar berarti selalu meninggalkan satu pertanyaan: di manakah rumah yang ingin kita tuju ketika seluruh perjalanan telah selesai?

Mungkin jawabannya sederhana:

Jika jarak membuat kita tersesat, biarlah cinta menjadi kompas yang menunjukkan jalan pulang.

 

Jejak Cinta, Janji di Fuji

Berat300 gram
Kondisi Baru
Dilihat 12 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait

Social Media & Marketplace
Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan admin kami

Siti
● online
Siti
● online
Halo, perkenalkan saya Siti
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: