Beranda » Sosial & Budaya » Kritik Sastra Menelusuri Identitas, Tradisi, dan Pascakolonial
click image to preview activate zoom

Kritik Sastra Menelusuri Identitas, Tradisi, dan Pascakolonial

Rp 85.000
Stok Pre Order
KategoriSosial & Budaya
Tentukan pilihan yang tersedia!
PRE ORDER
Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut mengenai pemesanan produk ini.
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Kritik Sastra Menelusuri Identitas, Tradisi, dan Pascakolonial

Judul       : Kritik Sastra Menelusuri Identitas, Tradisi, dan Pascakolonial

Penulis   : Enung Nurhayati, M.A., Ph.D., Tuti Sugilestari, S.Pd., Hendra, S.Pd., Emi Kulsum, S.Pd.,
Qholisna Munanar, S.Pd., Anisah, S.Pd.

Ukuran   : 14 x 20

Tebal       : 180 Halaman

Cover      : Soft Cover

 

SINOPSIS

Kritik Sastra: Menelusuri Identitas, Tradisi, Dan Pascakolonial menyajikan tujuh kajian tajam yang dihadirkan oleh enam kritikus, yaitu: Enung Nurhayati, M.A., Ph.D.; Tuti Sugilestari, S.Pd.; Hendra, S.Pd.; Umi Kulsum, S.Pd.; Qholisna Munawar, S.Pd.; dan Anisah, S.Pd. membongkar cara teks-teks klasik dan modern meramu makna di balik budaya dan kekuasaan. Setiap kritik dibangun di atas pijakan teori sastra terdepan, memetakan arena simbolik tempat wacana identitas dipertarungkan, lalu diresapi ulang melalui perspektif pascakolonial. Hasilnya, peta kritik sastra yang komprehensif sekaligus menantang batas pemahaman konvensional tentang siapa dan bagaimana “suara” sebuah bangsa terbentuk dalam khazanah sastra.

Kritik pembuka menelusuri kontestasi Jawa–Sunda dalam dua novel bertema Perang Bubat, menyingkap strategi naratif yang mengokohkan hegemoni Jawasentris dan cara tradisi Sunda menegaskan kehadiran budaya minoritasnya. Pembacaan kerangka sosiologi Pierre Bourdieu mengurai permainan kekuasaan simbolik melalui bahasa, adat, dan relasi sosial, menampilkan betapa sejarah kerap terlampir dalam setiap diksi dan struktur narasi.

Kritik berikutnya menghadapkan dua sudut pandang pascakolonial, hibriditas Minke dalam Bumi Manusia dan perlawanan subaltern dalam Bukan Pasar Malam. Teori “ruang ketiga” Homi Bhabha dan wacana diaspora Stuart Hall menggerus dualitas kolonial–tradisional, sementara dekonstruksi teks membuka ruang bagi suara-suara terpinggirkan yang selama ini terbungkam oleh dominasi narator mayoritas.

Dalam tiga kritik lanjutan, warisan budaya lisan Sunda dikaji dari Roesdi jeung Misnem sebagai modal simbolik resistensi dan kritik gender pada teks anak; puisi Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni diangkat sebagai bentuk estetika sederhana namun revolusioner; serta konflik psikologis di Belenggu Hasrat Terpendam yang menyingkap kerapuhan batin di persimpangan modernitas Hindia Belanda. Setiap studi mempertajam rasa keheranan pembaca akan kedalaman makna yang tersembunyi di balik kesan lugas sebuah teks.

Kritik penutup menelusuri akar akulturasi dalam naskah moral-historis Sunda kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian, memotret sinergi ajaran Hindu–Buddha dan Islam yang menata norma sosial masyarakat masa lampau. Kesemua kritik di dalamnya mengundang renungan, bagaimana teks sastra berperan sebagai penjaga identitas dan agen perubahan budaya? Sebuah tantangan sekaligus undangan untuk melanjutkan perjalanan, mengeksplorasi lapisan-lapisan wacana yang menunggu untuk diungkap lebih jauh.

Kritik Sastra Menelusuri Identitas, Tradisi, dan Pascakolonial

Berat300 gram
Kondisi Baru
Dilihat 144 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait

Social Media & Marketplace
Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan admin kami

Siti
● online
Siti
● online
Halo, perkenalkan saya Siti
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: